Opini: Swasembada Pangan Perlu Dihitung Ulang dari Meja Makan, Bukan dari Gudang
Produksi beras boleh surplus di atas kertas, tetapi selama ongkos logistik dari Sulawesi ke Jawa lebih mahal daripada impor, angka itu tidak bermakna bagi konsumen.

Angka produksi beras nasional tahun ini terlihat meyakinkan. Surplus, kata laporan. Namun konsumen di Jakarta tetap membayar harga yang tidak jauh berbeda dari tahun lalu, dan di Papua harganya dua kali lipat. Ada yang hilang antara gudang dan meja makan.
Baca juga: Opini: Literasi Digital Tidak Cukup Diajarkan, Ia Harus Dilatih Setiap HariYang hilang itu adalah ongkos memindahkan beras. Mengirim satu ton beras dari Sidrap ke Jakarta sering kali lebih mahal daripada mendatangkannya dari Bangkok. Selama kenyataan ini belum berubah, swasembada hanyalah angka statistik yang tidak terasa di dompet.
Kebijakan pangan kita terlalu lama berfokus pada hulu: bibit, pupuk, irigasi. Semua penting. Tetapi tanpa pelabuhan pengumpan yang efisien, kapal yang teratur, dan gudang berpendingin di sentra produksi, setiap kenaikan produksi hanya menekan harga di tingkat petani tanpa menurunkan harga di tingkat konsumen.
Mungkin sudah saatnya indikator swasembada diganti: bukan berapa ton yang diproduksi, melainkan berapa harga sepiring nasi di kota terjauh dari sawah. Kalau angka itu turun, barulah kita boleh berkata swasembada.
Komentar (0)
Berita Terkait
Berita TerkiniLihat semua







