Opini: Kota Layak Huni Bukan Soal Taman Baru, Melainkan Trotoar yang Bisa Dilalui
Anggaran ruang terbuka hijau terus naik, tetapi warga tetap enggan berjalan kaki karena 200 meter pertama dari rumah mereka tidak aman.

Setiap pemerintah kota gemar meresmikan taman. Taman mudah difoto, mudah diberi nama, dan mudah dilaporkan sebagai capaian. Trotoar tidak. Tidak ada yang menggunting pita untuk trotoar yang rata. Padahal justru di sanalah kualitas hidup kota ditentukan.
Baca juga: Opini: Literasi Digital Tidak Cukup Diajarkan, Ia Harus Dilatih Setiap HariData perjalanan harian di kota-kota besar kita menunjukkan hal yang konsisten: orang mau berjalan kaki untuk jarak di bawah 800 meter bila jalurnya menerus, teduh, dan tidak terputus oleh kendaraan parkir. Begitu satu ruas rusak, seluruh perjalanan beralih ke sepeda motor.
Membangun trotoar yang baik sebenarnya murah dibanding jalan layang, tetapi rumit secara politik karena bersinggungan dengan pedagang, parkir, dan tiang utilitas. Di situlah ujian sesungguhnya bagi seorang wali kota: bukan berapa banyak taman baru, melainkan berapa kilometer trotoar yang berani dibereskan.
Kota yang layak huni dimulai dari 200 meter pertama di depan rumah warganya. Kalau 200 meter itu tidak bisa dilalui dengan kereta bayi atau kursi roda, taman seindah apa pun hanya akan dinikmati mereka yang datang bermobil.
Komentar (0)
Berita Terkait
Berita TerkiniLihat semua







