Opini: Literasi Digital Tidak Cukup Diajarkan, Ia Harus Dilatih Setiap Hari
Kurikulum sudah memuat literasi digital, tetapi kemampuan memilah informasi hanya tumbuh bila sekolah membiarkan siswa salah, lalu memperbaikinya.

Setiap kali ada kehebohan hoaks, jawaban refleks kita selalu sama: tambahkan materi literasi digital ke kurikulum. Dan memang sudah ditambahkan. Masalahnya, memahami definisi misinformasi tidak otomatis membuat seseorang berhenti membagikannya.
Baca juga: Opini: Kota Layak Huni Bukan Soal Taman Baru, Melainkan Trotoar yang Bisa DilaluiLiterasi digital adalah keterampilan, bukan pengetahuan. Ia serupa berenang: tidak ada yang belajar berenang dari membaca buku. Siswa perlu dibiarkan menghadapi informasi yang menjebak, membuat keputusan, keliru, lalu membahas mengapa mereka keliru. Ruang kelas kita jarang memberi ruang untuk kekeliruan semacam itu.
Sekolah yang berhasil biasanya tidak memiliki mata pelajaran khusus. Mereka menyelipkan latihan verifikasi ke pelajaran sejarah, sains, bahkan olahraga. Guru menampilkan dua klaim yang bertentangan dan meminta siswa menelusuri sumbernya sebelum kelas berakhir. Sepuluh menit, tiga kali sepekan.
Pada akhirnya, orang dewasa di rumah adalah kurikulum yang sesungguhnya. Anak yang melihat orang tuanya memeriksa sumber sebelum meneruskan pesan di grup keluarga akan meniru hal yang sama. Kebiasaan itu tidak bisa diujikan, tetapi justru itulah yang menentukan.
Komentar (0)
Berita Terkait
Berita TerkiniLihat semua







